Entri Populer

Selasa, 18 Januari 2011

Kau terlahir

Di atas kursi santai tak jauh dari tempat duduk Ny. Ratna, Bu Maria duduk berselonjor. Lalu tanpa basa-basi meluapkan kekesalannya terhadap Ny. Ratna, putri keduanya. Sepertinya Bu Maria masih belum lega, belum puas dengan perdebatan tadi malam dan seakan ingin melanjutkan kembali perdebatan malam itu.
"Puaskah kau sekarang!?" Bu Maria langsung menumpahkan kekesalannya pada Ratna. Sementara Ratna pura-pura sibuk dengan rutinitas pagi harinya, di depan laptop, menyelesaikan beberapa tugas yang dianggapnya masih belum clear menjelang keberangkatannya ke kantor. Ratna tak menanggapi walau sepatah katapun.
"Kau seperti tidak punya hati Ratna?" Bu Maria kembali meluapkan kemarahannya. Ratna masih pura-pura sibuk di depan laptopnya, mencoba bersabar agar tak terpancing oleh kemarahan ibunya. Bu Maria geram sekali, ia tak habis mengerti mengenai sikap Ratna.
"Biar kau tahu Ratna, orang seperti kita ini sudah lebih dari hidup berkecukupan. Apalagi yang kau cari di dunia ini? tidakkah kau pikirkan tujuan hidup dan harus kemana kita akan kembali, Ratna?. Uang itu tidak ada ujungnya. Dan perlu kamu ingat Ratna!. Kamu terlahir dari rahimku di tengah-tengah hutan di tengah malam. Lalu Bu Maria kembali bertutur tentang bagaimana susahnya ia didalam melahirkan Ratna. 
Menjelang sore, usai waktu ashar. Aku dan tatik, bulekmu mulai menumbuk jagung di lesung. Untuk keperluan makan esok hari. Nasi jagung waktu itu adalah suatu primadona. Tak banyak orang-orang kampung yang mengkonsumsinya. Terbatas kepada mereka yang hidup berkecukupan. Sarapan nasi jagung di masa itu sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan ketersediaan pangan. Walau ketersediaannya kala itu hanya bisa bertahan beberapa bulan lamanya. Lalu biasanya di musim kemarau nasi jagung itu  menjelma menjadi umbi-umbian sebagai sarapan sehari-hari karena mulai memasuki musim paceklik. Bahkan di luar kampung kami yang terpencil, sarapan nasi jagung tak serta merta di konsumsi saban hari. Terkadang sehari makan nasi jagung, hari berikutnya makan gaplek singkong atau umbi-umbian lain semacam talas,uwi , gembili ,atau bahkan makan umbi gadung yang seringkali meninggalkan rasa getir dan gatal di mulut sebagai sarapan pagi. Belum selesai kami menumbuk jagung. Mendadak terdengar suara letupan pistol tak beraturan. Desing peluru terdengar semakin mendekat ke perkampungan. Sebuah teror yang maha dahsyat. Hari itu, kampung kami di serang secara tiba-tiba. Sayup-sayup mulai terdengar tangis histeris dari anak-anak. Teriakan-teriakan orang tua dan para ibu membahana. Dalam hitungan detik, warga kampung berhamburan keluar rumah untuk segera menyelamatkan diri. Himbauan yang tak jelas suaranya menginstruksikan agar segera keluar dari kampung. Sepertinya suara itu berasal dari ketua kampung kami. tak kuhiraukan peringatan dan himbauan dari ketua kampung itu. Dengan suaranya yang semakin lantang dan keras itu, menyerukan agar segera meninggalkan kampung. Tanpa pikir panjang, hal pertama yang kuselamatkan adalah nyawa. Segera kusuruh adik perempuanku dan dua orang keponakanku yang tengah main ke rumah, untuk masuk kesebuah ruangan bawah tanah. Yang hanya bisa di huni tiga orang. Kapasitasnya yang terbatas membuat kami harus berpisah. Aku sendiri menyelamatkan diri bersama suamiku, kang Aryo. Kang Aryo sendiri kulihat tengah menyelamatkan Imran, putra pertamaku di sebuah ruang bawah tanah. Lalu dengan cekatan kami berusaha lari menjauh dari perkampungan dengan tertatih-tatih, berjalan di jalanan berliku. Sebisaku menjauh sejauh mungkin dari perkampungan. Diriku yang telah memasuki masa kehamilan yang ke sembilan bulan, tak menyurutkan langkahku untuk terus melangkah. Hari itu serangan yang kedua kembali dilancarkan. Kali ini yang menjadi sasaran adalah pemuda-pemuda desa yang masih tersisa. Yang di perkirakan masih bersembunyi di rumah-rumah warga kampung, di balik hutan larangan dan di lereng-lereng gunung Muria. Beberapa hari sebelumnya para pemuda-pemudi desa termasuk suamiku, kang Aryo menyerang sebuah markas milik tentara Belanda. Oleh para pemuda-pemudi desa mensinyalir, didalamnya tersimpan peralatan perang, bahan-bahan makanan dan obat-obatan. Di markas itu tinggal lima orang tentara yang berjaga-jaga. Tiga orang di dalam, dan dua orang lainnya berjaga-jaga di luar. Suatu kebetulan sekaligus sebuah kesempatan. Di hari itu bagi orang-orang kampung terutama anak-anak muda adalah suatu kesempatan emas untuk segera menyerbu dan menjarah semua isi di yang ada dalamnya. Tanpa menunggu waktu lama anak-anak muda menyusun kekuatan, seluruh anak muda desa di kerahkan dan pecahlah pertempuran. Dalam hitungan menit, lima orang tentara Belanda tewas seketika. Tertombak oleh tajamnya bambu runcing, yang sebelumnya telah di doakan terlebih dahulu oleh beberapa sesepuh Desa. Hanya perlu waktu sekitar dua jam, puluhan pucuk senjata, bahan makanan dan obat-obatan dijarah dan di kuasai seluruhnya.
            Matahari di ufuk barat belum menenggelamkan diri. Pertempuran masih terus berkecamuk. Suara peluru dan meriam berdesingan memekakkan telinga. Kampung kami di obrak-abrik, di bakar habis. Rumah-rumah penduduk banyak yang hancur berkeping-keping, rata dengan tanah. Sebelum nyawaku ikut hangus terpanggang dalam bara api. Aku terlebih dahulu telah menyelamatkan diri bersama kang Aryo. Sore itu menjelang maghrib. Orang tua, para ibu dan anak-anak banyak yang terperangkap. Mereka di arak sedemikian rupa seperti kambing-kambing yang tak berdaya ke distrik militer di dekat rumah letnan van broost. Seperti biasanya, disana mereka lalu di sekap beberapa hari. Di paksa membuka rahasia lalu kemudian di bebaskan. Adapula yang di hukum jemur. Mereka di jerang di bawah panas terik matahari hingga berhari-hari lamanya. Dengan tertatih-tatih Aku dan kang Aryo lari tungang-langgang ke atas gunung melewati lereng-lereng curam dan perbukitan. Belum sempat kami temukan tempat persembunyian. Kang Aryo yang menyuruhku jalan di depan terlebih dahulu tiba-tiba mengerang kesakitan lalu jatuh tergeletak, tepat di belakangku, dia tertembak. Aku melihat sendiri bagaimana kang Aryo menggelinjang. Mengeluh kesakitan oleh tajamnya peluru yang tembus di bagian tengkuk dan satu lagi di pelipisnya. Darah seketika itu juga mengucur membasahi kerah baju dan lehernya. Sebelum ajal mendekat, nyawa menjauh menyingkir darinya. Kulihat guratan senyum yang tak seperti biasanya. Begitu ruh keluar dari jasadnya, kurasakan sekujur tubuhnya mendadak dingin. Aliran darah yang setia menghangatkan tubuhnya selama puluhan tahun lamanya tiba-tiba terhenti. Sebelum ia tiada, tak banyak kata-kata terakhir yang terucap dari kedua bibirnya yang telah kelu membiru. Ia hanya berpesan dengan suara yang mulai terputus-putus.
“Maria selamatkan anakmu! Imran!”
Tak lama setelah itu ia kujumpai dengan raganya yang kaku, dingin di sekujur tubuhnya. Tak lagi mengisyaratkan satu nafaspun. Kang Aryo telah mati. Ya. ia telah mati. Orang yang selama ini melindungiku telah terkapar di depan mata. Dari kedua bola mataku, tanpa kusadari air mata terus merembes membasahi wajahku yang coreng-moreng oleh abu untuk mengelabui musuh. Aku yang lemah tak kekurangan akal. Aku sempat berpura-pura pingsan beberapa menit. Tepat di atas mayat kang Aryo, untuk sekedar mengelabui musuh. Lalu demi anakku yang masih di kandung badan selama hampir sembilan bulan. Perlahan dengan langkah gontai kutinggalkan jasad suamiku yang telah membujur kaku. Kurasakan ketika jasad suamiku telah di tinggal pergi penghuninya. Dunia ini serasa hampa. Tiada lagi rasa, hasrat apalagi gairah. Aku biarkan jasad suamiku tergeletak begitu saja, tanpa seorangpun yang mengurusnya. Dalam batinku bertekad, suatu saat apabila nyawaku masih di kandung badan. Akan kudatangi, kucari dimana mayat suamiku tergeletak. Walaupun tinggal bangkai. Akan kukemas bangkainya sedemikian rupa. Lalu kupersembahkan kepada anak cucuku kelak. Bahwa kematian adalah gerbang kehidupan. Dan kehidupan adalah pada kematiannya. Kepada anak cucuku kelak, akan ku serukan bahwa semangat hidup takkan pernah mati, dan perjuangan takkan pernah usai. Ku saksikan orang-orang yang berkalang nasib, tertoreh untuk menjadi korban kerakusan manusia. Di jalan-jalan tikus, mayat orang tua dan anak-anak bergelimpangan. Telah tertulis masanya, bahwasannya mereka akan tiada di waktu yang akan tertera. Mereka yang selamat, lari terbirit-birit dengan sesekali diwarnai jeritan tangis histeris ke atas gunung berhutan. Sebagian lagi terkena coretan ilahi, mati.Tergeletak berserakan di lorong-lorong jalan, di jalan-jalan tikus di bawah tebing. Aku sendiri lari sebisaku ke dalam hutan, gegap gempita peluru tetap terdengar berdesingan, seakan-akan tepat di atas kepala. Spontan aku tiarap di tanah karena ketakutan. Dalam tiarap, aku seperti setengah sadar. Dalam ketidaksadaranku, Aku merasa ruhku telah meninggalkan jasadku. Dengan serta merta Aku berusaha mengikhlaskan ragaku yang tak lagi bernyawa. Tapi itu hanya perasaanku saja yang berlebihan. Tanpa kusadari, karena terlalu lama tiarap di tanah, Aku telah mendiami dunia antah berantah. Dunia bawah alam sadar, Aku ketiduran. Begitu terbangun, hari telah tersulap menjadi pekat berselimutkan dinginnya malam. Padang rembulan seperti tepat diatas kepala. Ditengah malam itu mulai kurasakan sakit di perutku. Aku didera rasa mulas yang hebat. Aku mulai merasakan tanda-tanda akan berkontraksi. Akupun mulai mencari tempat di bawah pepohonan hutan jati, diantara rindangnya pohon kemuning. Saat berkontraksi, rasa sakit di perut, mulai berkurang. Namun rasa pusing di kepala kian menyerang, di ikuti nyeri di bagian leher dan pinggang. Sendiri berteman sunyi dan sepi Aku menahan sakit. Sakit sekali. Sambil menahan rasa sakit ku kumpulkan helai demi helai dedaunan kering. Ku tata sedemikian rupa menyerupai sarang burung, tentunya hanya asal-asalan dan masih terlampau jauh dari sarang burung yang memakai seni tersendiri. Tak peduli dengan rasa gatal yang ditimbulkan oleh daun jati kering yang seolah tiba-tiba menyerangku. Bagiku tempat yang masih jauh dari rasa aman dan nyaman itu sudah lebih dari cukup untuk sekedar tempat berbaring. Di tengah-tengah hutan di tengah malam, Aku bergulat antara hidup dan mati. Berteman pohon besar yang setia meneduhiku. hanya sepercik sinar rembulan yang sudi menerobos masuk untuk menerangiku, menemani dalam kesusahan. di keheningan malam menjelang jatuhnya tetesan embun pertama turun itu suasana pecah oleh tangis pertama kelahiran bayi mungil. Bayi seorang perempuan. Tangis bahagia menemaniku malam itu. Beralas dedaunan kering telah ku lahirkan seorang bayi perempuan, tanpa sentuhan pertolongan dukun beranak, tepat di tengah malam.
 "Itulah sekelumit sejarah sewaktu kamu ku lahirkan Ratna?" Kata Bu Maria pada Ny, Ratna sembari mengusap pipinya yang sembab oleh baluran air mata.
"Aku sudah bosan dengan cerita itu Bu!. Lagi pula itu kan zaman baheula. Lain dengan zaman sekarang!" sahut Ny. Ratna dengan enteng.
"Itulah sejarah hidupmu yang musti dan wajib kamu ketahui."
"Lalu apa hubungannya dengan desakan Ibu agar saya mencabut SK"
"Tidakkah kamu tersentuh dengan cerita sewaktu kau terlahir dari rahimku di tengah malam di dalam belantara hutan Ratna?. Tanpa tempat tinggal yang layak. Dan semua itu sangat berat dan getir kurasakan  Ratna?. Sangat berat, seberat nyawa manakala akan terputus." ujar Bu Maria dengan wajah memerah.
“Tidakkah kau pahami bagaimana perasaan orang yang tidak punya tempat tinggal ?" Lanjut Bu Maria.
"Bukannya saya tidak tersentuh dengan cerita itu Bu. Tapi itu semua memang sudah tuntutan zaman. Kita harus maju ke depan dan mengejar ketertinggalan dari negara-negara tetangga, tempat tinggal yang kumuh harus di tertibkan, diganti dengan bangunan yang lebih layak dengan cara di renovasi menjadi rumah susun atau apartemen yang bersih dan sehat. Itu adalah salah satu jalan keluar dari kungkungan kemiskinan dan keterpurukan suatu bangsa". Urai Ny.Ratna dengan panjang lebar.
"Kamu memang sudah tidak punya hati Ratna!. Dengan susah payah kamu dulu saya kuliahkan dan kini kamu telah menduduki jabatan sebagai ketua di pengadilan, setidaknya kau bisa beranikan diri untuk mengambil sikap dan haluan yang berbeda dari teman sejawatmu. Keluar dari lingkaran nafsu dan ambisi yang tak jelas itu. Apa arti kedudukanmu jikalau hanya membuat banyak manusia yang tak berdaya menjadi lebih sengsara karena kehilangan tempat tinggal!".
"Ingat Bu. Keputusan dari pengadilan telah terbit, itu artinya penggusuran akan tetap dilaksanakan. Dan itu sudah final, tidak bisa diganggu gugat". Ny. Ratna tetap bersikukuh dengan pendiriannya. "Baiklah kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu. Tapi Perlu kamu renungkan kembali Ratna, bahwa keputusanmu telah membuat ratusan manusia kehilangan tempat tinggal, termasuk Tatik, bulekmu yang telah mendiami pemukiman itu puluhan tahun silam dan kini ia hidup sebatang kara.”         
Siang itu memasuki waktu dzuhur, di bawah terik panasnya matahari yang terasa menyengat, persis di saat suara Adzan dikumandangkan, exekusi lahan jadi di laksanakan, meski pagi harinya terjadi bentrok antara warga dengan aparat satpol PP. Para pemuda bersama ratusan warga dari berbagai elemen masyarakat yang di bantu puluhan aktivis mahasiswa gagal menghalang-halangi jalannya eksekusi. Gerah dengan aksinya yang yang berlangsung sejak pagi hari tanpa di gubris, tanpa mendapat tanggapan dan perhatian dari pemerintah, Beberapa ibu muda melakukan aksi nekat, Mereka melepas satu persatu pakaian yang di kenakannya hingga telanjang bulat. Tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuhnya. Di depan buldoser mereka bergulung-gulung, menangis histeris. Seorang ibu muda berbadan kurus bahkan menjerit-jerit sekencang-kencangnya hingga keluar darah dari lidahnya. Tak ketinggalan seorang nenek yang seluruh rambutnya telah beruban ikut-ikutan melepas seluruh pakaian yaang di kenakannya lalu berlari menuju buldoser. Toh akhirnya eksekusi lahan berjalan lancar. Aksi gila dari para ibu-ibu yang tidak berdaya itu masih tidak mempan untuk membuat keder para polisi pamong praja.
Satuan gabungan petugas satpol pp akhirnya berhasil menghalau dan mengusir aksi warga dan mahasiswa dari lokasi eksekusi. Mulai detik siang itu ratusan warga tergusur dari tanah leluhur .
Tanpa menghitung hari, Pemukiman kumuh itupun telah rata dengan tanah, satu persatu penghuninya pergi meningalkan tanah leluhurnya yang telah di huni lebih dari puluhan tahun, mereka berpindah tempat di kolong tol dan di bawah jembatan.
            Selang satu minggu kemudian, segenap jajaran di kejaksaan tinggi yang menangani kasus sengketa tanah yang berujung pada eksekusi lahan permukiman tersebut terjerat kasus korupsi senilai puluhan milyar. Tak urung, segenap jajaran di kejaksaan tinggi di tangkap dan di tahan oleh aparat kepolisian. Di duga kuat mereka  menerima suap dari Haji Martono, pemilik PT Gajah Mas Development, selaku penggugat yang memenangkan perkara sengketa lahan. Bukti-bukti itu di dapat dari hasil penyadapan telephon yang di lakukan atas kerja sama Irjen  polisi Marwan dan Budiono, sopir pribadi Ny. Ratna. Rupanya tanpa sepengetahuan Ny. Ratna, Bu Maria menyewa beberapa polisi bayaran dan juga Budiono. Awalnya Bu Maria ingin menyelidiki desas-desus upaya penyuapan oleh seseorang terhadap putrinya, Ny. Ratna, seorang diri, begitu mendengar sebuah percakapan telepon antara putrinya Ny. Ratna dengan seseorang pria di sebuah taman di samping rumah. Bu Maria mendengarkan percakapan itu tanpa sengaja dan tanpa di ketahui oleh Ny. Ratna. Dalam percakapan itu terdengar suara Ny. Ratna seperti menolak tawaran sejumlah uang dari seorang pria yang kedengarannya terasa asing. Muncullah keinginan dari Bu Maria untuk menguak siapa pria di balik percakapan itu. Tetapi demi sebuah harga diri dan membuang sebuah kecurigaan, Bu Maria lalu meminta bantuan Budiono dan Irjen polisi Marwan dan rekan untuk menyelidiki lebih lanjut..







Di Kesendirianku Bersama Kakek Asari


Petang ini mentari telah menenggelamkan diri di ujung barat, mungkin ia telah bosan menemaniku dalam kesendirian di tepi pantai. Kurasakan serpihan-serpihan kehampaan mulai mendekatiku. Pelan-pelan keremangan berganti pekatnya malam, sunyi berselimut sepi kian merapat. Tapi malam ini Aku tak lagi merasa sunyi, gelombang-gelombang ombak kecil menyapaku dengan lembut. Aku tak lagi takut meski sendiri di tepi pantai, telah kupasrahkan seluruh jiwa dan ragaku jika memang suatu saat aku harus kembali kepada ilahi, berbaur dengan pekatnya tanah lumpur dan menjadi makanan cacing tanah sebagai sesuatu pengorbanan yang kusebutnya sebagai hukum alam. Terkadang Aku sendiri gamang menatap kehidupan, sepanjang perjalanan hidupku tak lekang di dera pesakitan, sakit yang tidak biasa. Tak akan pernah ada obatnya dan hanya berobat kepada yang membuat penyakit itu Aku bisa sembuh. Sakit yang telah menderaku selama bertahun-tahun adalah sakit hati, sakit bathin karena semenjak kecil hingga kini tak seorangpun yang mau berteman denganku. Hanya beberapa ekor kerang dan ombak yang senantiasa menemaniku. Kata orang-orang dan beberapa tetangga jauhku, Aku terlahir sebagai anak haram. Diriku yang masih mungil di buang oleh seorang pemuda yang tak di ketahui identitasnya, di buang di depan rumah seorang kakek yang setelah Aku besar ku ketahui bernama kakek Asari. Walau sebenarnya kakek Asari hidup dengan bergelut kemiskinan, namun ia mau dan sanggup merawat dan membesarkanku hingga di usiaku yang menginjak enam belas tahun. Pada hakikatnya kakek Asari adalah seorang yang berkecukupan tetapi sama sekali tidak silau oleh harta itu sendiri. Hasil panen padi dan pisang dari sawah dan kebun selalu melimpah. Tak pernah kekurangan suatu apapun. Meski berkecukupan, sepanjang diriku dirawat olehnya tak pernah kujumpai kakek Asari mengonsumsi makanan yang berasal dari daging, meskipun itu daging hasil dari ikan laut. Beruntungnya Aku tak pernah dimarahi kakek meski kedapatan sedang makan cumi-cumi panggang kesukaanku di dalam kamar.
Seingatku sedari Aku masih kecil, hanya dua orang yang pernah berteman denganku, mereka adalah teman memulung kerang dan rumput laut di bibir pantai, itupun tidak berlangsung lama. Entah mengapa lama-lama mereka enggan bertemu denganku dan lambat laun semakin menjauh. Melihat diriku saja seakan-akan seperti seonggok daging busuk, seperti barang najis yang di haramkan dan tidak boleh di sentuh. Pernah suatu hari ada seorang anak kecil mendekatiku dan menanyakan beberapa patah kata padaku. Hanya bertanya barang sebentar dan ketahuan orangtuanya. Lalu tanpa perasaan sedikitpun anak kecil yang belum memasuki masa akil baligh itu di hajar, di pukuli oleh orang tuanya dengan ranting kayu berukuran sedang sambil beribu kali memaki-maki diriku.  Orang-orang dikampungku begitu teguh dengan ajaran Agamanya yang entah itu benar atau tidak masih menjadi misteri.  Mereka berasumsi sesuai ajaran yang telah berlaku turun temurun. Mereka menganggap anak haram sebagai musuh. Dalam pandangan mereka, anak haram tidak akan pernah diterima di dalam surga hingga tujuh turunan. Entah itu surga siapa yang dimaksud masih menjadi teka-teki. Mungkin itulah yang menjadi salah satu penyebab diriku harus di jauhi, di jadikan bahan ejekan dan cemoohan. Bahkan tidak asing lagi jika diriku semenjak kecil menjadi bahan tertawaan. Bagi mereka diriku adalah penghuni neraka dunia yang layak untuk di jadikan pelajaran buat anak cucu mereka.
Kakek Asari sebagai tulang punggung tempatku bersandar sempat dikucilkan oleh warga kampung setelah ketahuan merawat diriku. Semua itu baru kuketahui setelah diriku menginjak remaja. Karena sudah terbiasa dengan penghinaan dan cacimakian itu Aku menjadi terbiasa pula untuk menahan sabar yang entah telah berapa juta kali. Kini dengan mudahnya aku bisa menahan dan meredam emosiku meski dihujani pertanyaan-pertanyaan konyol oleh orang-orang kampung. Di sebuah rumah kecil yang lebih mirip gubuk dan tidak begitu luas, tepat di bawah pohon kemuning dan hanya beberapa meter dari bibir pantai Aku dan kakek Asari tinggal. Setahuku kakek Asari adalah seorang muslim, tetapi tidak pernah kulihat menjalankan shalat. Mungkin  semenjak kakek Asari merawatku. Aku menduga semua itu dilakukannya karena rasa sakitnya yang mendalam lantaran kakek Asari di usir mentah-mentah dari rumahnya sendiri oleh warga kampung. Hingga akhirnya kakek Asari mengungsi dan bertempat tinggal di tengah-tengah persawahan, tepat di bawah pohon kemuning. Kakek Asari menjauh dari kampung. Walaupun setiap hari hanya berteman sepi dan sunyi tetapi hakikatnya diriku tak pernah merasa kesepian, karena kakek Asari tempatku berkeluh kesah selalu mengajarkan diriku agar selalu tersenyum lepas seperti layaknya sedang di timpa kebahagiaan. Kakek Asari sendiri setahuku selalu mengumbar senyum dan tak pernah jemu. Itu sebabnya wajah keriput kakek yang cekung semakin bertambah lebar saja dan terlihat lebih segar dari usianya yang menginjak kepala delapan. Walau sebenarnya gigi-gigi gerahamnya telah tanggal semua.
Konon sebelum kakek Asari mengucilkan diri ia adalah seorang yang taat beribadah. Hari-harinya selalu dihabiskan di dalam masjid hingga membuat beberapa orang tetangganya menjadi sengit. Kakek Asari semasa mudanya jarang sekali melaut mencari ikan atau ke pematang sawah. Sawahnya yang lumayan luas di dekat pantai yang kini dijadikan tempat tinggal, dulunya tidak tergarap dan hanya ditanami singkong dan pohon pisang yang terbatas di sela-sela guludan. Semasa itu hanya sebulan sekali dan tidak tentu kakek Asari mengunjungi sawahnya. Sudah berkali-kali sawah itu di pasrahkan kepada para penggarap agar ditanami apa saja, tetapi tak seorangpun para penggarap yang berminat sama sekali. Para penggarap tidak ada yang bersedia menggarap sawah kakek Asari karena mereka meyakini di sawah kakek Asari terdapat banyak sekali dedemit dan genderuwo, terutama sawah yang berada persis di bawah pohon dadap, pada hal sawah kakek Asari sangatlah subur, cocok di tanami segala macam tanaman.
Karena sawah kakek Asari diyakini sebagai tempat dedemit dan genderuwo oleh kebanyakan warga kampung, sehingga seringkali iblis memanfaatkan kesempatan terbaiknya. Warga kampung seringkali di ganggu olehnya. Tidak jarang warga kampung yang kesambet dan terkadang menjadi stress dan mengigau hingga berhari-hari setelah mengambil sesuatu entah itu berupa kayu, buah maupun apa saja yang berada di sekitar sawah kakek Asari. Hingga kini beberapa pohon yang diyakini sebagai sarang dedemit dan genderuwo itu masih berdiri kokoh , masih setia meneduhi gubuk kakek Asari.Pohon-pohon yang diyakini keangkerannya itu diantaranya pohon asem jawa, pohon kemuning, pohon dadap dan beberapa pohon kelapa yang kini berada di samping rumah kakek Asari..            Sepanjang hidupku belum pernah melihat sekalipun guratan-guratan penyesalan dari wajah kakek asari karena telah merubuhkan tiang-tiang agama. Tetapi walau demikian kakek Asari tetap mengajarkanku bagaimana cara-cara shalat yang baik dan khusyu'.Aku hanya bisa menyangka dan menerka-nerka, mungkin kakek Asari meninggalkan shalat adalah sebuah bentuk protes kepada warga kampung yang dinilainya sangat kaku dan masih terpaku pada suatu ajaran yang mengesampingkan sisi kemanusiaan.Padahal hakikatnya, agama yang dianutnya adalah agama yang Rahmatan Lilalamin.Suatu agama yang bebas dan terikat erat oleh tali ahlakul karimah dan memberikan maqom tertinggi hak-hak asasi manusia.
Pernah suatu ketika di tengah malam, Aku bermimpi melihat kakek Asari berjalan di tengah-tengah gurun pasir yang sangat luas hingga seperti tak berujung. Di tengah-tengah gurun pasir itu Aku melihat kakek Asari di kerubungi banyak orang, entah apa yang di perebutkan Aku tidak tahu dengan pasti. Berkali-kali Aku bermimpi yang aneh-aneh tentang kakek Asari, namun mimpi-mimpi itu sengaja kurahasiakan dari kakek asari, tak pernah sekalipun ku utarakan ihwal mimpi-mimpiku itu. Aku khawatir apabila diriku dibentak untuk yang kedua kalinya. Pernah suatu ketika Aku melontarkan satu pertanyaan kepada kakek Asari, tapi hasilnya bukan jawaban yang Aku dapatkan, melainkan di bentak keras lalu disuruhnya Aku mengaji Alquran hingga tamat. Satu lagi  kejadian yang tak akan pernah kulupa hingga jasad dan ruhku berpisah. Aku pernah terjaga dari tidurku antara sadar dan tidaknya hanya Tuhan yang lebih mengetahuinya. Aku seperti melihat dan menyaksikan tepat di depan mataku, kakek Asari berjalan ketengah laut seperti orang yang sedang berjalan di daratan, lalu menceburkan diri ke tengah-tengah lautan. Hingga kini Aku masih belum tahu apa yang tengah dilakukan kakek Asari di tengah-tengah lautan. Mungkinkah kakek Asari mempunyai kerajaan di tengah-tengah laut?. Lagi-lagi aku merahasiakan kejadian yang ku saksikan itu dari kakek Asari. Yang lebih mengherankan di benakku adalah kurma. Ya. Kurma yang selalu tersedia di kamar kakek Asari. Kurma sebanyak setengah karung itu tidak pernah habis di makan hingga berbulan-bulan. Apabila kurma setengah karung itu mulai habis, lalu tiba-tiba keesokan harinya terisi kembali. Pada hal setahuku kakek Asari belum pernah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, pergi ke pasarpun belum tentu setahun sekali. Terasa janggal memang. Dan itu semua membuatku semakin bertambah penasaran tentang siapa jati diri kakek Asari yang sesungguhnya. Juga semakin bertambah rasa sayang dan banggaku pada kakek Asari. Entah itu kurma dari mana asalnya aku tidak pernah tahu dan tidak ingin tahu. 'Kelak Aku juga akan mengetahuinya' Pikirku dalam hati. "eshman!. Pulang nak. Waktu maghrib akan segera selesai. Syukuri hidupmu dengan  cara mendirikan shalat!" Aku segera beranjak pulang begitu terdengar panggilan dan nasehat dari kakek Asari. Pelan-pelan ombak menjauh dariku. Ia seperti memahami keadaanku. Ku lihat diatas sana pucuk-pucuk daun kelapa seperti terdiam dan tertunduk lesu. Semilirnya angin malam itu mendadak terhenti, dan Aku harus pulang untuk merajut kembali serpihan asa yang telah terserak. Mengadu kepada yang Kuasa dan terus memohon pertolongannya..